Sunday, August 4, 2019

Menjadi IRT di Tahun 2019


Tahun 2019

Well ini pertama kalinya aku menulis lagi sejak 2017. Apa saja yang terjadi? Buanyaaaakkkk.....
Terutama mengenai pendewasaan diri.Dulu aku sangat khawatir mengenai persepsi orang mengenai status Ibu Rumah Tangga. Ternyata saya banyak mengenal Ibu Rumah Tangga yang sangat sangat hebaaat, jauuuh lebih keren, lebih pintar dan lebih berprestasi dari aku. Hahahaa... dulu yaaah pemahamanku masih kurang banyak. Jadi ya sudahlah yah selesai dengan Issue itu. Justru sekarang aku merasa biasa biasa aja sih, karena ilmu S2 aku yaaa tidak berperan sepenuhnya dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Justru ilmu hidup ini yang menjadikan diriku lebih bermakna. Kenapa aku nulis ini? karena aku baca blog yang aku buat sebelum sebelumnya, hahahaaa.... Memang ada rasa insecure didalamnya ketika memutuskan jadi Ibu Rumah Tangga, terutama ketakutan dianggap remeh sama orang lain. Lalu sekarang gimana? Bodo amat lah mau dianggap gimana juga sama orang, perjalananku sampai hari ini membuktikan bahwa Kita Tidak Hidup Dari Komen atau Pandangan Orang Lain Kepada Kita. Just do the Best, selalu berdoa kepada Allah karena tanggung jawab kita hanyalah kepadaNya, berikan yang terbaik untuk keluarga dan BE NICE sama orang lain, jangan jahat. Udah itu aja ternyata. Perjalanan pendewasaan ini sungguh tidak mudah, rasanya kalau mengingatnya Amazing juga aku bisa kuat, tapi Allah selalu menyertai dan membimbing sehingga aku bisa melewatinya hari demi hari. Oke sekian dulu karena aku mau menulis yang lain. See U…

Monday, March 20, 2017

Anchor





Menjadi ibu merupakan suatu pengalaman bagi tak terlupakan bagi Ibu mana pun. Dan menjadi ibu pula banyak para wanita yang ingin merubah dirinya menjadi lebih baik, salah satunya saya. Ada salah satu kebiasaan saya saat itu yang sangat ingin saya rubah, yaitu kebiasaan bangun siang. Setelah memiliki anak bangun siang itu terasa sangat merugikan. Solat subuhnya belang bentong, rumah juga berantakan, kalau pagi semua terasa rusuh dan satu hal lagi yang paling krusial adalah anak-anak saya mulai ikut bangun siang. Kalau dipikir pake logika ya apa susahnya yah, tinggal bangun aja. Nah itu dia, saya pun berpikir seperti itu, makanya saya paksakan untuk bangun subuh subuh, tapi kadang menang kadang juga kalah, karena setiap bangun tubuh ini terasa berat, kelelahan, lesu dan tidak bersemangat. Pada akhirnya sering menggerutu dan kesal sendiri. Memiliki 2 balita yang menggemaskan seringkali membuat saya kelelahan setiap harinya dan kurang istirahat. Hal inilah yang membuat saya sulit untuk dapat beraktifitas pada waktu subuh. Terlebih lagi saat saya memutuskan untuk berhenti bekerja demi keinginan merawat anak-anak sendiri. Hari hari yang sepertinya monoton dan membayangkan pekerjaan saya sebagai seorang Ibu yang tidak ada habisnya membuat bangun subuh ini membuat saya tidak bersemangat.
Lalu dulu saat sekolah dan kerja bagaimana? Ya tentu saja bangun pagi. Tapi yang saya ingin kan adalah bangun subuh, selain itu banyak sekali motivasi yang membuat saya semangat menjalankan aktivitas kala itu, jadi bangun pagi pun tidak terasa beban.

 Beruntungnya bagi siapa saja yang telah memiliki kebiasaan bangun subuh dari kecilnya karena hal ini tentu saja mudah bagi mereka. Tetapi bagi saya hal ini membutuhkan usaha ekstra untuk merubah kebiasaan saya bertahun-tahun. Dari saya umur 5 tahun dan bersekolah di TK saya sudah pegang kunci rumah saya sendiri, dan sekolah tidak pernah ada yang antarkan. Saat itu kedua orang tua saya sudah bercerai dan saya tinggal bersama Ibu saya yang hebat sebagai single parent. Ibu saya bekerja menjadi sekretaris di salah satu perusahaan ternama di Jakarta,  sehingga ia bekerja dari pagi sampai malam baru sampai rumah. Sudah itu kebetulan saya dari SMP sampai SMA selalu kebagian sekolah siang. Saya yang terbiasa dengan segala keputusan, pertanyaan dan pilihan yang dibuat sendiri membuat saya memiliki kebiasaan jelek. Salah satunya adalah saya sulit sekali bangun subuh. Kalau dulu sewaktu kecil membayangkan saya akan kesepian seharian dirumah dan melihat Ibu saya berjalan pergi melewati pintu untuk bekerja membuat saya menarik selimut lagi. Kalau sekarang mengingat setumpuk pekerjaan saya sebagai seorang Ibu yang monoton sekaligus menghadapi tingkah anak setiap harinya membuat saya kembali memejamkan mata.

Hingga suatu saat saya mengikuti pelatihan Cikgu Okina kita semua disuruh membuat tujuan yang ingin kita capai. Tujuan yang saya pilih adalah “Saya Ingin Setiap Hari Bangun Jam 4 Subuh Dengan Penuh Semangat”. Lalu kita disuruh buat Anchor. Anchor adalah sebagai pengingat kembali emosi positif yang diinginkan. Cara membuat Anchor adalah dengan menekan titik tertentu pada tubuh yang sudah dibuat sebelumnya dan emosi yang diinginkan akan muncul seketika. Saat cikgu bertanya siapa yang ingin mencontohkan membuat anchor kedepan, saya langsung maju. Ini merupakan kesempatan, kapan lagi saya bisa dibuatkan Anchor langsung oleh pakarnya. Cikgu bertanya pada saya, apakah saya pernah bangun subuh dengan penuh semangat. Lalu saya mengingat ingat, dan saya pun mengangguk. Kapan? tanya cikgu lagi. “ Saat saya bersiap untuk pergi ke bandara karena saya harus job training 6 bulan di Kuala Lumpur”. Lalu Cikgu berkata “Ingat ingat kembali emosi itu, semakin besar semakin besar. Bagaimana rasanya”
“Rasanya seperti ada kembang apinya”
“Besarkan dan perbanyak lagi kembang apinya, semakin banyak semakin banyak dan semakin banyak” Kata cikgu sambil menekan titik di lengan saya. Lalu cikgu melanjutkan “Setiap kali kamu menyentuh titik itu maka seketika kamu akan merasa bersemangat”



Belum lagi saya selesai acara pelatihan itu saya merasa penuh energi. Hingga saat pulang beberapa teman saya bilang, “kamu semangat banget”. Karena sudah beberapa orang yang bilang saya pun jadi bertanya pada diri saya, “owh iya, tadi kan dibuatkan Anchor semangat”. Sehingga saya pun semakin yakin kalau saya akan mampu menerapkan anchor ini pada saat saya bangun subuh. Dan ternyata betul saja, esok subuh nya saat saya membuka mata, saya langsung meng aktif kan anchor semangat.  Saya pun langsung bangun dengan penuh semangat. Banyak hal yang bisa saya lakukan saat subuh, selain beribadah lebih khusyu saya pun memiliki “me time” yang mahal sekali harganya. Saya yakin Allah sudah mendesain sebaik baiknya berkegiatan dimulai di kala subuh, dan berbagai keuntungan akan didapatkan. Bukan hanya pikiran yang lebih jernih, rejeki yang lebih baik tetapi juga kesehatan yang lebih terjaga membuat tidak ada lagi alasan untuk bangun siang. Bagaimanapun saya adalah contoh dan model anak-anak saya dalam bersikap dan berprilaku. Sudah kewajiban saya untuk menjaga fitrah baik mereka sekuat upaya. Bukan siapa-siapa yang perlu dibenahi, hanya saya sendirilah yang harus berubah. Karena pada prinsipnya berubah itu mengubah. Kehidupan terutama emosi pun semakin membaik saat saya memulai kegiatan dari jam 4 subuh. Tidak terburu-buru, pekerjaan rumah tangga sudah rapih, sudah khusyu beribadah dan memiliki “me time”.  


Friday, July 11, 2014

Dear Palestine, sayangku...



Dear Palestine,

Iam not worry and sad about your condition. Karna aku tau bahwa dirimu sedang dilimpahi perhatian dan cinta dari Allah SWT, para nabi dan rasul juga para malaikat. Aku yakin disekeliling mu dilingkupi pasukan malaikat bersayap yang akan melindungimu. Andaipun ada korban, mereka bukanlah korban melainkan mereka manusia-manusia beruntung karna telah meninggalkan dunia yang keji dan menuju surga Allah yang tertinggi. Mereka akan bahagia, selama-lamanya. Semua wanita dan anak-anak kecil akan berlarian mengelilingi padang rumput penuh bunga sambil bernyanyi dan tertawa gembira. Sedangkan kita yang ditinggalkan saat ini sedang mengalami penderitaan yang hebat. Karena harus melihat kekejian dari makhluk yang tidak pantas dianggap manusia. Harus mengangis karna hati terasa sakit melihat saudara seiman mereka dibantai secara besar-besaran. Harus menahan diri untuk tidak teriak melihat ketidakadilan yang terjadi. Tak ada yang bisa aku lakukan saudaraku, selain berdoa…berdoa…berdoa…. Memberikan apa yang aku bisa.. dan akhirnya berdoa kembali… Aku tidak mampu melihat foto-foto penderitaan mu, aku tidak mampu untuk menulis di social media yang menyatakan keperdulianku padamu, aku tidak berdaya… Aku hanya mampu berdoa… Aku melakukan apa yang aku bisa… Aku hanya berkeyakinan bahwa saat ini posisi Allah sedekat atap rumahmu wahai saudaraku. Allah sedang memperhatikanmu, Allah sedang menangis, Allah sedang mencurahkan cahaya sucinya kepada mu. Wahai Palestine, dibalik keremukan hatiku terdapat keirian yang aku rasakan. Engkau memiliki keistimewaan, engkaulah para penghuni surga sesungguhnya. Engkaulah para saudara seimanku. Dear Palestine, sayangku… Bersabarlah dan bersukacitalah… Karena yang harusnya mengalami kesedihan dahsyat adalah semua saudara seimanmu yang hanya bisa melihat penderitaanmu dari jauh. Dear Palestine, sayangku…. Cinta Allah pada mu melebihi cinta kami semua para manusia walaupun satu dunia ini dikumpulkan. Percayalah sayangku, saat engkau menghadap keatas, ada mata Allah yang akan terus meyorotimu dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dear Palestine,sayangku…. I just wanna cry now…. Kuatkan hatimu wahai saudara-saudaraku. I LOVE U

Saturday, May 10, 2014

Caesar VS Alami

Tak Usah Merasa Bersalah Jika Caesar

Tak Usah Merasa Bersalah Jika Caesar Ayahbunda.co.id
Image by : Dokumentasi Ayahbunda
Pasca melahirkan secara caesar, rasa bersalah bisa saja timbul karena Anda termakan mitos yaitu hanya ibu yang melahirkan secara alamiah yang berhak menyandang predikat ibu sejati. Karena perjuangannya lebih besar dibanding bersalin secara Caesar.

Keyakinan pada mitos itu, diperkuat dengan adanya isu bahwa bayi-bayi yang dilahirkan secara alamiah, memiliki bonding lebih kuat dengan ibu. Bayi yang dilahirkan per vagina juga memiliki daya tahan tubuh lebih baik, sebab saat melewati jalan lahir, ia terkontaminasi bakteri baik, yang akan menjaga keseimbangan flora di ususnya. Usir rasa bersalah itu dengan:
  • Camkan ini: predikat ibu sejati tidak ditentukan lewat cara bersalin, namun merupakan hak prerogatif semua ibu yang hamil dan melahirkan bayinya dengan selamat ke dunia.
  • Jika persalinan per vagina tidak dapat dilakukan berdasarkan indikasi medis, maka operasi Caesar adalah pilihan yang tepat, bijak dan aman.
  • Bonding antara ibu dan anak tidak ditentukan lewat cara persalinan, namun merupakan hasil dari proses mendekatkan diri satu sama lain.
  • Point yang menyebutkan, bayi yang lahir secara alamiah memiliki daya tahan tubuh lebih baik, ada benarnya. Namun bukan berarti tidak ada harapan untuk Si BayiCaesar. Anda dapat membangun imunitasnya  melalui pemberian ASI Eksklusif danimunisasi lengkap serta tepat waktu.


Sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Kelahiran/Psikologi/tak.usah.merasa.bersalah.jika.caesar/001/007/930/2/1

Tuesday, May 6, 2014

Falling In Love With My Baby







Hari ini aku ngerasa bersyukur banget..... merasakan cinta yang melebihi dari apa yang kurasakan selama ini, yaitu rasa cinta sama anak. Tentunya diluar konteks mencintai Allah yah... Karena rasa cinta seorang ibu juga merupakan refleksi dari anugrah yang Allah berikan kepada kita. Sudah sunatullah. Melihat pemandangan sambil bernyanyi dan bermain, lalu memeluk dan mencium putri kecilku rasanya LUAR BIASA.... AKu beruntung sekali memutuskan menjadi seorang IBU FULL TIME.... Hal ini tidak dapat tergantikan oleh salary, shopping, nongkrong, nonton film, dancing, singing in front of people or whatever.... I just feel so grateful... Trimakasih ya Allah.... I love my daughter and my family so MUCH.... I think you have the same feeling... At least, most of you.... Have a nice day....


Monday, March 31, 2014

Never judge a Housewife



Hiii there,


Dari sekian blog yang di post adalah hasil karya orang lain, akhirnya inilah pertama kali nya aku menulis sendiri.

Let's start with my personal thougt,

It's about being houswife...


Aku juga gak tau kenapa tiba-tiba memutuskan untuk menjadi housewife, karena sebelum menikah aku adalah orang yang super independent. Aku hanya ingin menyenangkan ibuku dengan kelimpahan materi dan aku ingin memiliki posisi yang berharga untuk meningkatkan nilai diri. Hal tersebut aku kejar untuk menutupi perasaan ku sebagai seorang anak dari korban perceraian orang tua. 

Akan tetapi semua berubah saat aku menikah dan memiliki seorang putri yang sangat pintar dan cantik. Aku ingin mengabdikan diriku untuk keluarga, dimana sebelumnya aku tidak mendapatkannya. Ibuku yang hebat menjadi singleparent dan berjuang dengan bekerja keras untuk membesarkanku, tapi seorang anak terkadang ingin selalu berada disamping ibunya. Mungkin berdasarkan pengalaman itulah aku memutuskan ingin menjadi ibu rumah tangga. 

Karena aku tidak ada pilihan? karena aku berkecukupan? karena aku tidak memiliki pendidikan yang tinggi? karena aku kurang pintar? karena aku kurang menarik? karena aku tidak berkemampuan? karena aku seorang pemalas? WAIT! tunggu dulu.... Aku adalah seorang gadis muda yang atraktif dengan pendidikan yang tinggi, berkemauan keras dan suka bekerja keras. Aku adalah lulusan dari kampus yang sangat ternama di Jakarta, dan bahkan merupakan sekolah komunikasi terbaik di Indonesia. Dengan IPK 3,39 aku merupakan mahasiswi yang termasuk pintar dan cerdas. Bahkan sekarang aku sedang meneruskan S2 ku di tempat yang sama. Tetapi aku juga bukan orang yang berkecukupan, dimana bila aku dirumah maka keuangan keluarga bisa menutupi semua kebutuhan. Tidak. Kami adalah pasangan muda yang sedang merintis karir. Lalu apakah alasanku sebenarnya?  Aku ingin mengambil kesempatan emas ini untuk mengabdikan diriku untuk suami dan anak-anakku. Untuk keluarga. At least aku akan lebih sering berada di sisi mereka daripada orang lain. Aku menjadi orang pertama yang menangis disaat mereka bersedih dan menjadi orang yang pertama kali tertawa disaat mereka bahagia. Dan aku yakin bahwa SEORANG WANITA WAJIB MEMILIKI PENDIDIKAN YANG TINGGI KARENA IA HARUS MENJADI SEORANG IBU YANG AKAN MERAWAT DAN MEBESARKAN CALON-CALON MANUSIA BERKUALITAS DIHADAPAN AGAMA MAUPUN BANGSA. Naaah, itulah tugas terberat seorang ibu, tidak main-main mulianya tugas ini, maka aku yakin aku harus fokus. Menjadi ibu rumah tangga bagiku adalah PILIHAN. Tidak semua orang berani mengambil pilihan itu karena berbagai macam alasan. Aku pun tetap sangat menghargai mereka. 

Tapi apakah aku akan berpangku tangan, dan melewatkan hari-hariku begitu saja. Tentu tidak. Sudah sifat dasar seorang manusia untuk mencapai achievement dan self goal dalam dirinya. Ingat, sudah sunatullah. Maka aku harus berbisnis untuk menjadi seorang istri yang mandiri dan bahkan membantu tugas suami untuk menafkahi keluarga.  Wow, luar biasa yah menjadi seorang wanita. Aku sangat salut terhadap semua ibu didunia ini dengan beragam profesi dan pemikiran. Semuanya hebat. Oke, kita lanjut... Maka seorang wanita harus mampu berbisnis dan menghasilkan uang tanpa harus terpisah jauh dari anak-anaknya, atau bahkan menitipkan anaknya kepada "orang lain" yang bahkan kita tidak tau asal usulnya alias babysitter. Kukerahkan semua pemikiran, kira-kira bisnis apa yang yang bisa aku lakukan tanpa harus mengenyampingkan peranku sebagai seorang ibu. Lalu keluarlah ide untuk membuat baju menyusui, dan dari sinilah AMAQ lahir. Bukan hanya aku masih bisa mengurus keluarga, bahkan aku adalah si pemakai produk itu sendiri, kenapa? karena anakku masih menyusui, dan aku berniat menyusuinya sampai umur 2 tahun kalau Allah mengizinkan. Dan dengan izin Allah lah aku ingin memulai usaha ini. Mompreneur adalah solusi terbaik untuk ku. Tidak ada lagi pertentangan batin untukku. Semoga menginspirasi yah.... Satu hal yang paling penting, adalah MANUSIA HANYA BISA BERUSAHA, TETAPI ALLAH YANG MENENTUKAN. Kita bisa berprinsip dan ber idealisme tetapi semuanya kembali lagi kepada izin Allah, sang pemilik jiwa dan raga. Sang pembolak balik hati. Jadi jalani semuanya dengan ikhlas. Amin.


Kisah seorang ibu yang di bully di social media karena menyusui anaknya


Source : www.vemale.com

Menyusui bayi dengan ASI eksklusif adalah hal yang lumrah dan membanggakan bagi seorang ibu. Namun sebuah kejadian yang kurang menyenangkan terjadi beberapa waktu lalu pada seorang ibu muda bernama Emily Slough.
Wanita berusia 27 tahun ini tengah berbelanja. Di tengah jalan, ia minggir ke sisi sebuah restoran untuk menyusui bayinya yang lapar dan masih berusia 8 bulan. Ternyata ada orang lain yang melihat itu dan mengambil fotonya.

Photo copyright Dailymail.co.ukPhoto copyright Dailymail.co.uk
Tanpa sepengetahuan Emily Slough, foto itu muncul di Facebook dengan tulisan, "Aku tahu matahari sedang panas-panasnya, tapi tidak perlu menyusui anakmu di tengah kota!!! Wanita jalang."
Foto itu diunggah di sebuah Page Facebook Spotted Rugeley. Tentu saja Emily sangat shock dengan foto itu. Ia mengatakan pada Birmingham Mail bahwa orang yang melakukan hal ini padanya membuat Emily sangat marah.

Aku sangat yakin dan nyaman menyusui bayiku | Photo copyright Dailymail.co.ukAku sangat yakin dan nyaman menyusui bayiku | Photo copyright Dailymail.co.uk
"Aku sangat percaya diri dan nyaman dengan menyusui bayiku," ujarnya. Curahan hatinya ini sampai ke ranah Twitter dan ia mendapatkan banyak dukungan dari wanita yang memperjuangkan ibu-ibu menyusui bayinya. Seorang wanita bernama Linda Deakin, mengatakan dalam akun Twitternya bahwa tak ada wanita yang boleh direndahkan karena mereka menyusui bayinya.
Mereka juga menyesalkan akun Facebook Rugeley yang malah memposting dan mempermalukan seorang ibu yang mencoba menyusui bayinya. Dalam akun Facebooknya, Emily mengatakan, "Aku akan mengabaikan dan menertawakan postingan itu, Namun aku menyadari bahwa ini adalah contoh yang sempurna tentang budaya apa yang sebaiknya dihapuskan dalam gaya hidup modern sekarang ini."




Dukungan untuk Emily di Twitter | Photo copyright Dailymail.co,ukDukungan untuk Emily di Twitter | Photo copyright Dailymail.co,uk
Sejak foto itu diunggah, Emily mengatakan melalui BBC bahwa ia menerima banyak pesan. Ada yang mendukungnya. Ada pula yang mengatakan bahwa ia harus menyusui dengan lebih terhormat, misalnya menyusui di toilet umum. Emily mengatakan, "Akankah kau makan di toilet dengan serbet di wajahmu?"
Seorang perwakilan dari The National Childbirth Trust juga mengatakan bahwa tindakan ini sangat mengerikan, karena setiap ibu yang menyusui bayinya dilindungi oleh hukum. "Setiap ibu yang memilih untuk menyusui bayinya, berhak melakukan itu tanpa adanya tekanan," ujarnya.
Emily Slough sangat berterima kasih karena banyak orang yang mendukungnya untuk bisa menyusui bayi dengan leluasa. Ia menggelar kampanye di Market Street dan sekitar 1200 orang kabarnya akan hadir di sana. Good job Emily. Setiap ibu memang berhak menyusui bayinya dengan leluasa tanpa ada tekanan dari pihak manapun.