Monday, March 20, 2017

Anchor





Menjadi ibu merupakan suatu pengalaman bagi tak terlupakan bagi Ibu mana pun. Dan menjadi ibu pula banyak para wanita yang ingin merubah dirinya menjadi lebih baik, salah satunya saya. Ada salah satu kebiasaan saya saat itu yang sangat ingin saya rubah, yaitu kebiasaan bangun siang. Setelah memiliki anak bangun siang itu terasa sangat merugikan. Solat subuhnya belang bentong, rumah juga berantakan, kalau pagi semua terasa rusuh dan satu hal lagi yang paling krusial adalah anak-anak saya mulai ikut bangun siang. Kalau dipikir pake logika ya apa susahnya yah, tinggal bangun aja. Nah itu dia, saya pun berpikir seperti itu, makanya saya paksakan untuk bangun subuh subuh, tapi kadang menang kadang juga kalah, karena setiap bangun tubuh ini terasa berat, kelelahan, lesu dan tidak bersemangat. Pada akhirnya sering menggerutu dan kesal sendiri. Memiliki 2 balita yang menggemaskan seringkali membuat saya kelelahan setiap harinya dan kurang istirahat. Hal inilah yang membuat saya sulit untuk dapat beraktifitas pada waktu subuh. Terlebih lagi saat saya memutuskan untuk berhenti bekerja demi keinginan merawat anak-anak sendiri. Hari hari yang sepertinya monoton dan membayangkan pekerjaan saya sebagai seorang Ibu yang tidak ada habisnya membuat bangun subuh ini membuat saya tidak bersemangat.
Lalu dulu saat sekolah dan kerja bagaimana? Ya tentu saja bangun pagi. Tapi yang saya ingin kan adalah bangun subuh, selain itu banyak sekali motivasi yang membuat saya semangat menjalankan aktivitas kala itu, jadi bangun pagi pun tidak terasa beban.

 Beruntungnya bagi siapa saja yang telah memiliki kebiasaan bangun subuh dari kecilnya karena hal ini tentu saja mudah bagi mereka. Tetapi bagi saya hal ini membutuhkan usaha ekstra untuk merubah kebiasaan saya bertahun-tahun. Dari saya umur 5 tahun dan bersekolah di TK saya sudah pegang kunci rumah saya sendiri, dan sekolah tidak pernah ada yang antarkan. Saat itu kedua orang tua saya sudah bercerai dan saya tinggal bersama Ibu saya yang hebat sebagai single parent. Ibu saya bekerja menjadi sekretaris di salah satu perusahaan ternama di Jakarta,  sehingga ia bekerja dari pagi sampai malam baru sampai rumah. Sudah itu kebetulan saya dari SMP sampai SMA selalu kebagian sekolah siang. Saya yang terbiasa dengan segala keputusan, pertanyaan dan pilihan yang dibuat sendiri membuat saya memiliki kebiasaan jelek. Salah satunya adalah saya sulit sekali bangun subuh. Kalau dulu sewaktu kecil membayangkan saya akan kesepian seharian dirumah dan melihat Ibu saya berjalan pergi melewati pintu untuk bekerja membuat saya menarik selimut lagi. Kalau sekarang mengingat setumpuk pekerjaan saya sebagai seorang Ibu yang monoton sekaligus menghadapi tingkah anak setiap harinya membuat saya kembali memejamkan mata.

Hingga suatu saat saya mengikuti pelatihan Cikgu Okina kita semua disuruh membuat tujuan yang ingin kita capai. Tujuan yang saya pilih adalah “Saya Ingin Setiap Hari Bangun Jam 4 Subuh Dengan Penuh Semangat”. Lalu kita disuruh buat Anchor. Anchor adalah sebagai pengingat kembali emosi positif yang diinginkan. Cara membuat Anchor adalah dengan menekan titik tertentu pada tubuh yang sudah dibuat sebelumnya dan emosi yang diinginkan akan muncul seketika. Saat cikgu bertanya siapa yang ingin mencontohkan membuat anchor kedepan, saya langsung maju. Ini merupakan kesempatan, kapan lagi saya bisa dibuatkan Anchor langsung oleh pakarnya. Cikgu bertanya pada saya, apakah saya pernah bangun subuh dengan penuh semangat. Lalu saya mengingat ingat, dan saya pun mengangguk. Kapan? tanya cikgu lagi. “ Saat saya bersiap untuk pergi ke bandara karena saya harus job training 6 bulan di Kuala Lumpur”. Lalu Cikgu berkata “Ingat ingat kembali emosi itu, semakin besar semakin besar. Bagaimana rasanya”
“Rasanya seperti ada kembang apinya”
“Besarkan dan perbanyak lagi kembang apinya, semakin banyak semakin banyak dan semakin banyak” Kata cikgu sambil menekan titik di lengan saya. Lalu cikgu melanjutkan “Setiap kali kamu menyentuh titik itu maka seketika kamu akan merasa bersemangat”



Belum lagi saya selesai acara pelatihan itu saya merasa penuh energi. Hingga saat pulang beberapa teman saya bilang, “kamu semangat banget”. Karena sudah beberapa orang yang bilang saya pun jadi bertanya pada diri saya, “owh iya, tadi kan dibuatkan Anchor semangat”. Sehingga saya pun semakin yakin kalau saya akan mampu menerapkan anchor ini pada saat saya bangun subuh. Dan ternyata betul saja, esok subuh nya saat saya membuka mata, saya langsung meng aktif kan anchor semangat.  Saya pun langsung bangun dengan penuh semangat. Banyak hal yang bisa saya lakukan saat subuh, selain beribadah lebih khusyu saya pun memiliki “me time” yang mahal sekali harganya. Saya yakin Allah sudah mendesain sebaik baiknya berkegiatan dimulai di kala subuh, dan berbagai keuntungan akan didapatkan. Bukan hanya pikiran yang lebih jernih, rejeki yang lebih baik tetapi juga kesehatan yang lebih terjaga membuat tidak ada lagi alasan untuk bangun siang. Bagaimanapun saya adalah contoh dan model anak-anak saya dalam bersikap dan berprilaku. Sudah kewajiban saya untuk menjaga fitrah baik mereka sekuat upaya. Bukan siapa-siapa yang perlu dibenahi, hanya saya sendirilah yang harus berubah. Karena pada prinsipnya berubah itu mengubah. Kehidupan terutama emosi pun semakin membaik saat saya memulai kegiatan dari jam 4 subuh. Tidak terburu-buru, pekerjaan rumah tangga sudah rapih, sudah khusyu beribadah dan memiliki “me time”.